Anggota Brimob Di Referensi Lakukan Pelanggaran

Anggota Brimob Di Referensi Lakukan Pelanggaran – Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar menyebutkan Kepala Kepolisian Bidang Tigi Inspektur Satu MR serta delapan anggota Brimob disangka tidak mematuhi mekanisme tetaplah (protap) waktu mengatasi tindakan massa di Kampung Bomou, Distrik Tigi Selatan, Deiyai Selasa, 1 Agustus 2017. Pelanggaran protap itu mengakibatkan seseorang warga tewas.

” Sesuai sama referensi yang didapatkan tim pemeriksaan, Kapolsek serta delapan anggota Brimob disangka sudah lakukan pelanggaran mekanisme dalam perlakuan tindakan massa, ” kata Boy Rafli Amar di Timika, Jumat, 11 Agustus 2017.

Menurut dia tim pemeriksaan sudah kembali dari Deiyai serta sudah memberikan laporan kerja hasil mereka pada pimpinan Polda Papua.

” Sesudah dicek satu per satu rangkaian aksi anggota di lapangan, nyatanya ada tindakan-tindakan yg tidak terkoordinasi dengan baik pada Polsek serta Brimob. Lalu tidak ada kesepahaman dalam menangani orang-orang yang waktu itu melampiaskan kekecewaan mereka pada perusahaan, ” terang Boy Rafli.

Menurut Kapolda, ada tanda-tanda kuat kalau anggota lakukan pelanggaran mekanisme dalam soal pemakaian senjata barah waktu mengatasi tindakan warga. ” Yg tidak diprioritaskan yakni prinsip kehati-hatian serta kepatutan, karna semestinya orang-orang masih tetap dapat dikerjakan dengan sistem negosiasi. Atau melumpuhkan dengan tangan kosong karna ada warga yang membawa senjata tajam. Aksi maksimum yang dapat dikerjakan dalam keadaan sesuai sama itu baru hanya tembakan peringatan, ” katanya.

Boy menjelaskan kurun waktu dekat juga akan selekasnya mengadakan sidang Kode Etik Profesi serta Pengamanan pada sembilan anggota Polri yang ikut serta masalah penembakan di Deiyai itu. ” Berkas beberapa terduga pelanggar kode etik masih tetap disediakan oleh Tim Propam Polda Papua. Kami juga akan selekasnya mengadakan sidang dengan terbuka, silahkan orang-orang melihat segera persidangan itu, ” tutur Boy.

Hukuman untuk anggota yang ikut serta masalah penembakan di Deiyai terberat yakni dapat diberhentikan dari keanggotaan Polri. ” Kelak kita saksikan kenyataan-fakta yang tersingkap sepanjang persidangan, ” tuturnya.

Insiden penembakan di Deiyai bermula dari penolakan karyawan waktu warga memohon pertolongan untuk mengantar korban terbenam ke rumah sakit. Warga lalu membawa korban terbenam itu ke rumah sakit. Tetapi waktu tiba dirumah sakit korban telah wafat.

Warga yang geram lalu lakukan penyerangan pada karyawan serta perlengkapan di kamp punya PT Putera Dewa yang tengah lakukan pembangunan jembatan. Karyawan memberikan laporan insiden itu ke Polsek Tigi serta pos Brimob. Polisi yang datang ke tempat terserang warga yang membawa beragam perlengkapan tradisionil seperti parang, panah serta batu. Berlangsung penembakan oleh aparat sampai tentang warga.